Artificial Intelligence berkembang sangat pesat dan telah menarik perhatian banyak orang dalam beberapa tahun terakhir ini. Saat ini kita tidak perlu lagi menjadi seorang seniman yang memiliki bakat untuk membuat sebuah karya seni, sekarang kita hanya perlu mengetik beberapa kata di dalam tools AI dan hanya dalam satu klik saja, kita bisa membuat "karya seni" yang luar biasa.

Hal ini memungkinkan setiap orang untuk menghasilkan lebih banyak karya seni dalam waktu singkat meskipun mereka tidak memiliki keahlian yang umumnya diperlukan untuk menciptakan karya tersebut.

'Di satu sisi, hal ini jelas memudahkan banyak orang dalam menciptakan berbagai karya. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut malah menimbulkan kontroversi baru, khususnya di antara para seniman. Bagaimanakah fenomena ini dapat terjadi?


Khawatiran Seniman Terhadap Membludaknya AI "Art"



Sebuah survei mengungkapkan bahwa teknologi Artificial Intelligence telah menciptakan lebih dari 15 miliar gambar hanya dalam kurun waktu satu tahun. Angka ini melampaui total foto yang diambil selama 150 tahun pertama sejarah fotografi.

Angka fantastis ini tentunya telah menggemparkan dunia dan menunjukkan betapa hebatnya kemampuan AI jika dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan secara manual. Hal ini membuat banyak komunitas seniman merasa khawatir bahwa kehadiran teknologi AI dapat mengancam pekerjaan mereka dan ekosistem karya seni.


Dalam menghadapi banyaknya jumlah karya seni yang dihasilkan oleh AI ini, beberapa komunitas seni telah mengambil langkah dramatis untuk melarang atau membatasi kehadiran AI di situs komunitas seni mereka, termasuk Newgrounds, Inkblot Art, dan Fur Affinity.

Kehadiran berbagai alat generator gambar seperti Midjourney dan Stable Diffusion telah menimbulkan perdebatan di kalangan seniman. Sebagian menganggap AI sebagai alat yang membantu, sementara sebagian lainnya memandang AI sebagai pencuri karya seni karena metode kerjanya.

Kekhawatiran ini memang beralasan, karena keberadaan AI dapat membantu banyak orang, termasuk seniman, untuk lebih mudah dalam menciptakan karya. Namun, di sisi lain, AI juga berpotensi merugikan mengingat sistem kerjanya yang mengambil data dan karya seni yang sudah ada sebelumnya.

Kasus Kontroversial Penggunaan AI



Kontroversi mengenai seni yang dihasilkan oleh Kecerdasan Buatan muncul dari kekhawatiran tentang kreativitas, keaslian, hak cipta, dan pengaruhnya terhadap pasar serta ekosistem karya seni. Beberapa karya seni berbasis AI yang kontroversial telah menimbulkan perdebatan baru-baru ini.

Théâtre D’opéra Spatial


Théâtre D’opéra Spatial, karya milik Jason M. Allen
yang dibuat menggunakan AI Midjourney

Pada tahun 2022, Jason M. Allen menciptakan karya yang disebut "Théâtre D'opéra Spatial," atau "Space Opera Theater", menggunakan generator seni AI Midjourney. Allen mengirimkan karya seni tersebut sebagai peserta ke kompetisi seni tahunan Colorado State Fair dan memenangkan posisi pertama.

Banyak seniman yang tidak senang dengan hal ini. Mereka beranggapan bahwa Jason M. Allen melakukan kecurangan dengan menggunakan teknologi AI dalam suatu kompetisi seni. Banyak yang menilai tindakan Jason adalah suatu kemalasan dan tidak menggunakan keterampilan sama sekali untuk membuat karyanya sehingga membuat kompetisi tidak adil.

Boris Eldagsen, The Electrician


The Electrican, Karya AI yang memenangkan
"Sony World Photography Awars"

Boris Eldagsen memenangkan Penghargaan Fotografi Dunia dari Sony World Photography Awards untuk karyanya yang berjudul "The Electrician." Karya ini menunjukkan dua wanita dengan gaya masa lampau. Setelah memenangkan kompetisi tersebut, seniman asal Jerman ini menolak hadiahnya ketika mengungkapkan bahwa karyanya dihasilkan menggunakan teknologi AI.

Portrait of Edmond Belamy


Potrait of Edmond Belamy, 2018, dibuat menggunakan
teknologi AI "GAN" oleh Obvious Art

Karya yang berjudul "Portrait of Edmond Belamy" telah mendapatkan perhatian besar dan terjual di Lelang Christie's pada Oktober 2018 dengan harga fantastis, yaitu sekitar 432.500 dolar. Harga penjualan ini telah memicu perdebatan mengenai peran teknologi AI dalam dunia seni dan menimbulkan pertanyaan tentang kepemilikan serta kreativitas.

Kesimpulan

Debat sengit mengenai seni yang dihasilkan oleh teknologi Artificial Intelligence telah memunculkan pertanyaan yang mendalam mengenai orisinalitas, kepemilikan, dan hak cipta karya seni. Meskipun seni AI membuka peluang baru dan memperluas pandangan kita tentang seni, terdapat kekhawatiran tentang kekurangkreatifan dan kedalaman dalam proses penciptaannya.

Banyak yang merasa bahwa seni yang dihasilkan dengan AI kurang memperlihatkan proses kreatif yang mendalam yang umumnya dianggap sebagai inti dari karya seni. Selain itu, masalah kepemilikan dan hak cipta menjadi semakin kompleks dengan munculnya pertanyaan tentang siapa yang seharusnya memiliki hak atas karya seni AI, yang dapat mengarah pada konsekuensi hukum yang serius. Kontroversi ini menekankan pentingnya mempertimbangkan implikasi etis dan hukum dari perkembangan teknologi AI, sambil tetap menghargai kreativitas dan usaha para seniman.


Referensi

Abdullahi, A. (2023). Behind the Controversy: Why Artists Hate AI Art, Tech Republic, https://www.techrepublic.com/article/ai-art-controversy/

Connx. (2023). Hanya dalam satu tahun, AI ciptakan lebih banyak gambar dari 150 tahun fotografi, https://connx.id/article-detail/hanya-dalam-satu-tahun-ai-ciptakan-lebih-banyak-gambar-dari-150-tahun-fotografi/4708

Edwards, B. (2022). Flooded with AI-generated images, some art communities ban them completely, Ars Technica, https://arstechnica.com/information-technology/2022/09/flooded-with-ai-generated-images-some-art-communities-ban-them-completely/

Shaffi, S. (2023). ‘It’s the opposite of art’: why illustrators are furious about AI, The Guardians, https://www.theguardian.com/artanddesign/2023/jan/23/its-the-opposite-of-art-why-illustrators-are-furious-about-ai